PENGEMBANGAN KAMPUNG WISATA DIGITAL BERBASIS VIRTUAL TOUR SEBAGAI WADAH PROMOSI WISATA
DI KEPULAUAN SERIBU 
PADA ERA INDUSTRI 4.0

Ada beberapa versi cerita mengenai sejarah penduduk asli di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Versi pertama menyebutkan bahwa penduduk asli di wilayah ini merupakan percampuran dari kelompok etnik Mandar dengan kelompok etnik Betawi. Versi lain cerita yang ada di masyarakat menyebutkan bahwa penduduk asli di wilayah ini merupakan percampuran dari kelompok etnik Bugis dengan kelompok etnik Betawi. Kedua versi cerita tersebut memiliki kesamaan, yaitu generasi pertama kelompok etnik Mandar dan Bugis sama-sama menikah dengan kelompok etnik Betawi. Kelompok etnik Betawi ini sendiri berasal dari wilayah pesisir utara Tangerang, seperti Mauk dan Kronjo. Warga Kepulauan Seribu Utara menyebut kelompok etnik Betawi ini sebagai orang Banten. Penduduk asli sendiri agak kesulitan menyebutkan identitas etnik mereka. Ada yang menyebut diri mereka sebagai kelompok etnik Mandar, Bugis, Banten, dan ada juga yang menyebut ketiga kelompok tersebut sebagai identitas diri mereka. Versi cerita mengenai sejarah penduduk asli Kepulauan Seribu Utara yang lebih banyak dipahami oleh masyarakat adalah cerita versi pertama. Cerita sejarah penduduk asli Kepulauan Seribu Utara yang akan dijabarkan dalam tuisan ini juga merupakan cerita versi pertama yang lebih banyak dipahami oleh warga di wilayah ini. Generasi pertama kelompok etnik Mandar datang dan menetap di Kepulauan Seribu pada zaman penjajahan Belanda. Kelompok ini merupakan pelaut yang mencari penghidupan baru di daerah ini. Pulau yang dihuni ketika itu hanya Pulau Panggang, Pulau Pelemparan (sekarang namanya menjadi Pulau Harapan), dan Pulau Tidung. Pulau Panggang dan Pulau Harapan saat ini masuk wilayah administratif Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, sedangkan Pulau Tidung masuk wilayah administratif Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Pulau-pulau lain selain ketiga pulau tersebut ketika itu merupakan pulau kosong yang tidak berpenghuni. Setelah menetap di Kepulauan Seribu, Orang-orang Mandar banyak berhubungan bisnis dengan daerah Tangerang Utara. Mereka menjual hasil ikan ke daerah Mauk dan Kronjo. Selain menjual ikan, mereka juga membeli bahan-bahan kebutuhan hidup di daerah ini. Dalam hubungan perdagangan ini, banyak orang-orang Mandar yang bertemu jodoh mereka di daerah tersebut. Banyak laki-laki Mandar yang menikah dengan perempuan dari daerah Mauk dan Kronjo. Setelah menikah, mereka kemudian menetap dan berkembang di Kepulauan Seribu.

 




.